Daerah

Eksistensi Warga Tionghoa di Tana Luwu Akar Sejarah Kuat dari La Galigo, Kini jadi Bagian dari Kedatuan

×

Eksistensi Warga Tionghoa di Tana Luwu Akar Sejarah Kuat dari La Galigo, Kini jadi Bagian dari Kedatuan

Sebarkan artikel ini
YM Datu Luwu, Andi Maradang Mackulau bersama warga Tionghoa yang tergabung dalam PSMTI Kota Palopo di Istana Kedatuan Luwu 22 Januari 2026, lalu. --IP--

Eksistensi komunitas Tionghoa di Luwu Raya memiliki akar sejarah yang erat dengan epos La Galigo. Mitologi warga Luwu sejak dahulu kala. Warga Tionghoa memiliki ruang khusus baik secara spasial maupun dalam ruang sosial, ekonomi dan bahkan politik.


Warga Tionghoa baru saja merayakan Tahun Baru Imlek 2577 Kongzii, yang diperingati pada Selasa 17 Februari 2026, lalu. Tahun ini dikenal sebagai Shio Kuda Api yang melambangkan energi yang kuat, terang, dan penuh gairah.

Di Luwu Raya, warga Tionghoa sudah tersebar di empat kabupaten/kota se-Luwu Raya. Mereka mulai datang di Abad XVII dan masif di Abad XX. Namun lebih banyak bermukim di Kota Palopo dan sudah melahirkan banyak keturunan dari generasi ke generasi. Berdasarkan catatan sejarah perdagangan antara Indonesia dengan Tiongkok mulai berlangsung antara tahun 250 M dan 400 M. Misi-misi dagang Cina sering dikirim ke luar negeri untuk mencari barang-barang langka dan berharga untuk istana. Kehadiran warga Tionghoa di Luwu Raya turut mewarnai sejarah dan peradaban terbentuknya daerah di Luwu Raya lewat jalur perdagangan. Maka tak heran jika, sejumlah pengusaha hebat adalah warga Tionghoa.

Hubungannya dengan Istana Kedatuan Luwu pun tidak bisa dipisahkan, terjalin sangat baik, erat, dan harmonis, terutama sejak masa pemerintahan Datu Luwu Andi Kambo Opu Daeng Risompa. Warga Tionghoa diakui sebagai bagian dari Tana Luwu yang taat, memiliki peran penting dalam bidang sosial-ekonomi, serta mendapat tempat dan fasilitas dari Kedatuan Luwu sejak awal kedatangannya. Bahkan Datu Luwu kala itu menghibahkan sebidang tanah di Salobulo-Balandai sebagai lahan kuburan Cina.
Di zaman kepemimpinan Datu Luwu XL, Yang Mulia Andi Maradang Mackulau Opu To Bau SH MKn lalu mengeluarkan penjelasan resmi terkait pengukuhan Tomakaka Tionghoa menjadi bagian Dewan Adat Kedatan Luwu. Pengukuhannya dilakukan 25 Februari 2023 lalu.

Dalam titahnya, YM Datu Luwu XL telah berdiskusi dan mengkaji dengan Dewan Adat 12 perihal pengukuhan ini dan disetujui dan disepakati. Beberapa pertimbangan yang dapat saya sampaikan terkait latar belakang sehingga lahir keputusan untuk mengukukuhkan pemuka etnis yang kemudian diberi nama Tomakaka Tionghoa Ri Tana Luwu, antara lain, Kedatuan Luwu memandang bahwa etnis Tionghoa merupakan salah satu etnis atau kaum yang sejak kedatangan pertama kali di akhir abad 17 dan berkembang secara masif di abad 20 telah hidup dan berketurunan di Tana Luwu. Saat ini, telah ada sekitar 800 kepala keluarga atau sekitar 2.000 jiwa warga Tana Luwu yang merupakan etnis Tionghoa. Jika dikomparasi, maka jumlah ini hampir sama dengan jumlah warga 1 kelurahan di Kota Palopo.

Sejak masa Datu Luwu Andi Kambo Opu Daeng Risompa, hubungan Kedatuan Luwu dengan warga Tionghoa berlangsung sangat baik dan erat. Sepanjang catatan Istana, warga Tionghoa memperlihatkan perilaku sebagai warga Tana Luwu yang taat dan selalu berhikmad kepada Langkanae. Selain itu, warga Tionghoa juga telah menunjukkan peran-peran sosial ekonomi yang cukup penting bagi perkembangan Tana Luwu secara umum;

Setelah menimbang beberapa opsi nama yang berkembang di Dewan Adat 12, saya memilih nama Tomakaka untuk digunakan oleh pemuka etnis Tionghoa di Tana Luwu. Hal ini memiliki akar sejarah, karena saya secara pribadi menyaksikan secara langsung kakek saya, Datu Luwu Andi Djemma Opu To Appamene Wara WaraE memanggil pemimpin Tionghoa dengan nama Tomakaka.

Perlu diketahui bahwa, dalam struktur Dewan Adat Luwu, selain merepresentasikan pemimpin dari wilayah adat tertentu, juga dikenal beberapa jabatan yang merupakan pemimpin atau perwakilan dari kaum tertentu yang tidak menguasai wilayah adat, seperti Anreguru Ana’ Arung, Anreguru Ottoriolong, Anreguru Pampawaepu, Macoa Cenrana, Macoa Wage, dan Macoa Lalengtonro. Jabatan-jabatan seperti ini merupakan perwakilan dari profesi, kelas sosial dan warga keturunan di luar wilayah adat Kedatuan Luwu.

Keputusan untuk mengukuhkan Tomakaka Tionghoa Ri Tana Luwu merupakan langkah progresif yang merupakan bagian dari upaya tranformasi Kedatuan Luwu untuk tetap relevan dengan kebutuhan zaman, dan untuk mewujudkan visi pemajuan kebudayaan Tana Luwu sebagai entitas kebudayaan yang inklusif dan berdampak secara nyata di masyarakat.

Ikatan Sejarah
Hubungan Kedatuan Luwu dengan Tiongkok sudah terjalin jauh sebelum era perdagangan. Halitu diketahui dari penelusuran Mitologi I Lagaligo. Dimana, Tentiabeng yang dikandung oleh ibu Opu Sengngeng yang kemudian dibawa ke Cina, jantung Tanah Bugis. Untuk menikah dengan penguasa. Kedua peremuan bersaudara ini berjanji mengawinkan keturunan mereka satu sama lain.
We Opu Sengngeng kemudian melahirkan Sawerigading dan We Tenriabeng melahirkan seorang puteri yang bernama We Cudai. Sawerigading sendiri memiliki saudara kembar perempuan bernama We Tenriabeng. Keduanya dibesarkan di tempat yang berbeda dalam istana orang tua mereka tanpa pernah saling bertemu.
Orang tua mereka takut ramalan seorang juru nujum bahwa jika kelak Sawerigading bertemu dengan saudara kembar-nya ia akan jatuh hati, menjadi kenyataan.
Setelah beranjak dewasa, Sawerigading berlayar ke Tanete untuk mewakili Luwu dalam sebuah pertemuan para pengeran untuk menyelenggarakan upacara merajah penguasa Tanete.
Sebenarnya, ia diutus pergi jauh dari Luwu karena saudara kembarnya, We Tenriabeng akan dilantik menjadi seorang bissu dalam sebuah upacara umum yang tentu saja tidak boleh dihadiri Sawerigading, atau ramalan itu akan menjadi kenyataan. Namun, dalam perjalananya, Saweri-gading diberitahu tentang saudara kembarnya itu, dan saat pulang ke Luwu dia berusaha melihat We Tenriabeng lewat sebuah lubang di loteng istana. Tak pelak lagi, Sawerigading pun jatuh cinta dan memutuskan untuk menikahinya. Tak ada orang yang bisa membujuk Sawerigading agar dia membatalkan niatnya tersebut. Bahkan, ancaman bencana alam yang akan menimpa sekalipun, tidak menyurutkan keinginannya untuk menikahi saudara kandungnya. We Tenriabeng kemudian membujuk Sawerigading agar mengurungkan niatnya untuk mengawini dirinya dan menyarankan agar kakak-nya mengawini sepupunya yang sangat mirip dengannya. Jika rambutnya tidak panjang seperti rambutnya rambutnya, dan pergelangan dan jari We Cudai tidak cocok dengan gelang dan cincinnya, We Tenriabeng bersedia dinikahi Sawerigading. Mereka berdua, kata We Tenriabeng bak pinang dibelah dua, dan sebagai bukti dia memberi sehelai rambut salah satu gelang dan cincingnya kepada Sawerigading.