Internasional

Iran Buka Selat Hormuz dengan Pakai Syarat!

×

Iran Buka Selat Hormuz dengan Pakai Syarat!

Sebarkan artikel ini

TEHERAN TABARONEWS — Ketegangan geopolitik yang memuncak antara Iran dan Amerika Serikat kini menimbulkan ancaman serius terhadap stabilitas jalur perdagangan energi dunia, khususnya di Selat Hormuz, jalur laut terpenting untuk pasokan minyak global.

Iran mengeluarkan ultimatum yang memaksa negara-negara untuk mengusir duta besar Amerika Serikat dan Israel jika ingin kapal mereka tetap bisa melintas di kawasan tersebut.

Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) menyatakan bahwa negara-negara yang ingin mempertahankan akses melewati Selat Hormuz harus mengambil langkah diplomatik yang sangat berat. Pernyataan ini disiarkan oleh televisi pemerintah Iran, Islamic Republic of Iran Broadcasting (IRIB), dan langsung menarik perhatian dunia karena syarat tersebut membawa dampak besar secara diplomatik.

“Setiap negara Arab atau negara Eropa yang mengusir Duta Besar Israel dan Amerika dari wilayahnya akan memiliki kebebasan penuh untuk melewati Selat Hormuz mulai besok,” jelas pernyataan IRGC yang dikutip dari laporan CNN dan The Guardian.

Sementara itu, situasi di kawasan semakin memburuk setelah Amerika Serikat bersama Israel melancarkan serangan udara besar terhadap Iran pada 28 Februari lalu. Iran membalas dengan serangan rudal dan drone yang menargetkan wilayah Israel serta negara-negara Teluk yang menjadi pangkalan militer AS. Akibatnya, lalu lintas di Selat Hormuz praktis lumpuh, memicu kekhawatiran akan krisis energi global.

Ancaman Krisis Energi dan Dampak Pasar Global
Selat Hormuz dikenal sebagai jalur strategis yang mengalirkan sekitar 20 persen pasokan minyak global setiap hari. Sebagian besar ekspor gas alam cair (LNG) dari Timur Tengah juga bergantung pada jalur sempit ini. Data dari perusahaan analisis energi Kpler, yang memantau pergerakan kapal melalui platform MarineTraffic, menunjukkan aktivitas kapal tanker di kawasan tersebut turun drastis hingga 90 persen dalam waktu satu minggu saja.

Dampak langsung dari krisis ini terasa di pasar energi global. Harga minyak dunia melonjak mendekati US$100 per barel, dipicu kekhawatiran gangguan pasokan dari Timur Tengah serta perlambatan produksi minyak di sejumlah negara kawasan. Jika ketegangan terus berlanjut, para analis memperingatkan kemungkinan gejolak energi baru yang dapat memicu kenaikan harga bahan bakar minyak di berbagai negara.(int)