Olahraga

Kalah di GBH Parepare, Pelatih PSM Thomas Trucha Akui Timnya Bermain Buruk

×

Kalah di GBH Parepare, Pelatih PSM Thomas Trucha Akui Timnya Bermain Buruk

Sebarkan artikel ini
Pelatih PSM, Tomas Trucha. --IP--

MAKASSAR TABARONEWS — Kekalahan PSM Makassar atas Dewa United di Stadion Gelora BJ Habibie, Parepare, menjadi catatan buruk bagi pelatih PSM, Tomas Trucha. Ia sangat kecewa.

Dalam konferensi pers, ia menyebut penampilan timnya “sangat buruk sejak awal”. Ia bahkan mengaku heran bagaimana timnya bisa bertahan tanpa kebobolan di babak pertama.

Pengakuan itu terasa jujur, sekaligus menyiratkan kegamangan. “Buruk, sangat buruk sejak awal pertandingan. Kita cuma melihat-lihat Dewa United memainkan bola,” ujarnya. Sebuah kalimat yang menggambarkan betapa PSM terlalu pasif.

Diketahui kalau PSM Makassar menelan kekalahan di kandang sendiri di Stadion Gelora BJ Habibie, Parepare, dari tim lawan Dewa United, lewat 2 gol yang disarangkan Vico Duarte dan Alex Martins.

Kekalahan PSM ini sangat menyakitkan lantaran terjadi di hadapan ribuan suporter fanatik PSM, bahkan disaksikan langsung sejumlah kepala daerah yang sempat hadir, diantaranya Wali Kota Parepare Tasmin Hamid dan Wali Kota Palu Hadiyanto Rasyid.

Pemain PSM Makassar kesakitan usai ditekkel pemain Dewa United. –IP–

Dengan kekalahan ini PSM turun ke peringkat 13 dengan 23 poin. Jarak dengan zona degradasi hanya delapan angka—sebuah margin yang tidak nyaman di kompetisi panjang seperti BRI Super League.

Jalannya Pertandingan

Stadion Gelora BJ Habibie, Parepare, yang biasanya menjadi benteng kebanggaan, sore itu terasa berbeda. Bukan karena sepi suporter, melainkan karena pendekatan yang dipilih tuan rumah. Dengan tiga pemain baru tersedia baik inti maupun cadangan, publik berharap ada keberanian baru. Namun yang terlihat justru kehati-hatian berlebihan.

PSM Makassar memilih menunggu. Blok rendah diterapkan sejak awal. Garis pertahanan dirapatkan, lini tengah lebih sibuk memotong alur umpan ketimbang membangun serangan. Strategi itu seolah memberi pesan: jangan kebobolan dulu, urusan menyerang belakangan.

Masalahnya, sepak bola tak selalu ramah pada tim yang terlalu lama menunggu.

Sejak menit pertama, arah permainan sudah jelas. Dewa United tampil percaya diri dengan sirkulasi bola yang rapi. Stefano Lilipaly, Taisei Marukawa, dan Ricky Kambuaya bergantian mengatur tempo. Sementara PSM lebih banyak bergerak reaktif—mengandalkan momen transisi cepat yang tak kunjung matang.

Peluang emas pertama justru datang dari kaki Jacques Medina pada menit ke-9. Tembakan kerasnya memaksa Sonny Stevens bekerja keras. Itu menjadi satu dari sedikit momen di mana PSM tampak berani keluar dari cangkangnya.

Di sisi lain, Alex Martins sempat membuat jantung publik Parepare berdegup lebih cepat pada menit ke-18. Ia mencetak gol, namun bendera offside lebih dulu terangkat. Ancaman itu menjadi sinyal bahwa tekanan Dewa United bukan sekadar formalitas.

Hingga turun minum, skor 0-0 bertahan. Secara angka, aman. Namun secara permainan, rapuh. PSM tak benar-benar mengendalikan apa pun. Mereka hanya menahan.

Memasuki babak kedua, situasi tak banyak berubah. Dewa United menaikkan intensitas, sementara PSM tetap berhitung. Tekanan demi tekanan datang, dan ruang semakin sempit.

Titik balik hadir pada menit ke-76. Victor Luiz menerima kartu merah. Keputusan wasit itu menjadi pukulan berat. Bermain dengan sepuluh orang di fase krusial memaksa struktur pertahanan semakin dalam. Blok rendah berubah menjadi blok tertekan.

Sejak saat itu, laga terasa seperti menunggu waktu. Reza Arya Pratama sempat menjadi tembok terakhir. Namun tekanan tanpa inisiatif balasan membuat PSM terus berada dalam gelombang serangan.

Menit ke-90, Vico Duarte memecah kebuntuan. Stadion terdiam. Empat menit berselang, Alex Martins memastikan kemenangan 2-0 lewat sepakan yang tak terbendung. Dua gol di ujung laga menjadi simbol dari satu hal: dominasi yang tak pernah benar-benar dilawan.(int)