Internasional

Mojtaba Khamenei Kandidat Kuat Pimpin Iran, Gantikan Alm. Ayahnya Ali Khamenei

×

Mojtaba Khamenei Kandidat Kuat Pimpin Iran, Gantikan Alm. Ayahnya Ali Khamenei

Sebarkan artikel ini

TEHERAN TABARONEWS — Masih lowongnya pemimpin tertinggi Iran pasca kematian Ayatollah Ali Khamenei, muncul satu nama menjadi perhatian dunia, yaitu Mojtaba Khamenei, putra kedua dari Ayatollah Ali Khamenei yang tewas pada hari pertama pecahnya perang.

Pria berusia 56 tahun yang selama ini beroperasi jauh dari sorotan publik itu kini disebut-sebut sebagai kandidat terkuat untuk menduduki jabatan pemimpin tertinggi Republik Islam Iran.

Belum ada pengumuman resmi dari otoritas Iran, tetapi berbagai media Israel dan barat melaporkan bahwa Mojtaba Khamenei adalah tokoh paling depan dalam bursa pengganti sang ayah.

Sementara itu, berdasarkan laporan eksklusif Iran International yang mengutip sumber-sumber anonim, Majelis Ahli Iran, di bawah tekanan kuat dari Korps Pengawal Revolusi Islam atau IRGC, telah memilih Mojtaba sebagai pemimpin tertinggi berikutnya.

Keputusan tersebut belum diumumkan ke publik dan diperkirakan baru akan disampaikan setelah pemakaman Ali Khamenei. Lantas, siapa Mojtaba Khamenei ini?

Sosok Mojtaba Khamenei
Mojtaba Khamenei lahir di Mashhad dan merupakan anak kedua dari Ali Khamenei. Ia menghabiskan tujuh tahun masa kecilnya di wilayah barat laut Iran sebelum kembali untuk menyelesaikan pendidikan menengahnya.

Setelah itu, ia mendalami teologi Islam bersama ayahnya dan seorang ulama terkemuka lainnya, Ayatollah Mahmoud Hashemi Shahroudi, yang menjabat sebagai ketua mahkamah agung Iran dari 1999 hingga 2009.

Mojtaba menyelesaikan studinya sebagai ulama di seminari Syiah di kota suci Qom. Secara hierarki keagamaan, ia menyandang gelar hojatoleslam, yakni ulama tingkat menengah yang beberapa tingkat di bawah ayatollah.

Gelar ini menjadi salah satu sorotan kritis, mengingat posisi pemimpin tertinggi Iran secara konstitusional mensyaratkan penguasaan mendalam atas yurisprudensi Islam.

Namun para analis mengingatkan bahwa hambatan ini tidak mutlak. Ayahnya pun bukan seorang ayatollah ketika diangkat sebagai pemimpin tertinggi pada 1989, dan undang-undang kemudian diamandemen untuk mengakomodasi hal itu. Hal serupa, menurut Al Jazeera, sangat mungkin terjadi kembali untuk Mojtaba.

Karier Militer dan Jaringan IRGC
Kedekatan Mojtaba dengan kekuatan militer Iran bukan sesuatu yang baru. Sejak muda, ia membangun hubungan erat dengan IRGC melalui pengalaman langsung di medan perang.

Ia bertugas di Batalion Habib selama beberapa operasi dalam Perang Iran-Irak di era 1980-an. Sejumlah rekan seperjuangannya dari masa itu kemudian menduduki posisi-posisi penting dalam aparatus keamanan dan intelijen Republik Islam Iran.

Kedekatan dengan IRGC inilah yang kini menjadi salah satu kekuatan terbesar Mojtaba. Iran International melaporkan bahwa IRGC memberikan tekanan kuat kepada kelompok ulama yang berkumpul untuk memilih pemimpin baru.

Selain IRGC, Mojtaba juga dikenal memiliki pengaruh besar atas Basij, satuan paramiliter sukarela yang menjadi ujung tombak penindasan terhadap para pengunjuk rasa selama bertahun-tahun.