PALOPO TABARONEWS — Gerakan masyarakat Luwu Raya untuk berdiri sendiri menjadi suatu provinsi masih terkendala syarat ambang batas minimal lima kabupaten/kota. Namun, muncul opsi wilayah Toraja bisa bergabung, sehingga syarat itu bisa terpenuhi.
Menyambut usulan bergabungnya Toraja masuk ke dalam usulan Provinsi Luwu Raya langsung disambut baik sejumlah tokoh Toraja. Dimana, sekira 60 orang berkumpul, di D’Rij Hotel Convention Hall, untuk membahas langkah strategis ke depan terkait rencana penggabungan wilayah Torut dan Tator ke dalam wilayah Tana Luwu (Kabupaten Luwu, Kota Palopo, Luwu Utara dan Luwu Timur) untuk membentuk provinsi baru.
Para tokoh Toraja ini lalu menamakan dirinya Tim Formatur pembentukan Provinsi Luwu Toraja yakni, para tokoh masyarakat di dua kabupaten yakni, masyakat Toraja Utara (Torut) dan Tana Toraja (Tator), Tokoh Pendidik, Agama, Adat dan beberapa lembaga lainnya.
Para tokoh tersebut membahas berbagai aspek krusial yakni, peta wilayah, dasar historis, potensi ekonomi hingga kesiapan sosial dan administratif.
Ini banyak memunculkan pertanyaan krusial apakah dua kabupaten ri Toraja siap secara politik, ekonomi dan sosial untuk masuk dalam desain provinsi baru.
Pdt Musa Salusu, Ketua Umum Panitia pemekaran Provinsi Luwu Toraja (Lutor) menekankan bahwa, pembentukan provinsi baru bukan soal pemekaran wilayah semata, tetapi tentang pemerataan pembangunam, percepatan pelayanan publik, membuka akses anggaran lebih luas fari pemerintah pusat.
Sekadar diketahui bahwa, pertemuan tim formatur menjadi langkah awal menuju proses panjang yang penuh tantangan dan rintangan, mulqi dari konsolidasi daerah, persetujuan DPRD, rekomendasi gubernur Sulsel, dan keputusan pemerintah pusat.
Namun satu hal yang jelas, wacana provinsi Lutor kini bukan lagi bisik-bisik, sudah berubah gerakan terbuka yang mulai mengetuk pintu nasional.
Ini nama-nama Tim Formatur Provinsi Luwu Toraja (Lutor) yakni, Viktor Datuan Batara, YS Tandirerung, Nikodemus Biringkanae, Jhon Diplomasi, Erik Cristal Ranteallo, Fajar N Longding Allo, Kombes (Purn) Dr Darma Lelepadang, Soni Palulungan, Andre Tulak, Yohanis Luntin Paembongan, Daud Sarangga, Yuli Parantean, Johan Darise, Suli Matius, Alexander Patandean, para profesor, Insinyur dan para Doktor, mereka berkumpul.
Sementara itu para tokoh Toraja yang berada di Tana Luwu sangat menyetujui Luwu Toraja bergabung, apalagi Datu Luwu Andi Mackulau ke 40 menyampaikan ke para tokoh Toraja di istana Luwu bahwa, Datu Luwu mengajak dan setuju Toraja bergabung di Provinsi yang kita galakkan.
” Saya sebagai salah satu orang Toraja yang sudah puluhan tahun menetap di Palopo sangat setuju jika Luwu dan Toraja jadi satu Provinsi. Karena, kesamaan budaya, politis dan kesejarahannya,” terang Capt Yonathan Tambing, M.Mar Ketua IKat Tana Luwu.
“Sudah dari dulu pernah diwacanakan dan Datu Luwu sangat sependapat jika Toraja masuk karena sejarahnya ada. Saya sangat sependapat kalau Luwu dan Toraja jadi satu provinsi karena sejarah dulu satu afdeling waktu Zaman Belanda. Dan secara budaya hampir kita satu dimana bahasa kan sama.
Sebelumnya, Ketua Umum Ikatan Keluarga Toraja (IKaT) Tana Luwu, Capt Yonathan Tambing, M.Mar saat bersilaturahmi dengan YM Datu Luwu di Istana Kedatuan, pekan lalu, dimana ‘Yang Mulia Datu Luwu, Andi Maradang Mackulau, S.H (Opu To Bau) Datu Luwu XL mengajak Toraja gabung menjadi Provinsi Luwu Raya.
Yonathan menjelaskan bahwa, Toraja dan Tana Luwu tidak bisa dipisahkan. Karena, awalnya pernah menjadi satu kesatuan.
Pada prinsipnya orang Toraja di Tana Luwu lebih suka kalau Luwu dan Toraja menjadi satu Provinsi. Karena dari segi kesejarahan, memang satu. Susah untuk dipisahkan baik dari budaya, bahasa, dan ikatan kekeluargaan masih sangat erat antara orang Luwu dan Toraja, baik di Bastem maupun di Rongkong serta Seko.
Jadi, dari kesejarahannya Luwu dan Toraja itu tidak bisa dipisahkan.(idr)






