- Ketahanan Stok hanya 20 Hari, Impor BBM Terbesar dari Malaysia dan Singapura
JAKARTA TABARONEWS — Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengingatkan potensi naiknya harga bahan bakar minyak (BBM) dalam negeri jika perang AS-Israel vs Iran terjadi berkepanjangan. Hal ini sejalan dengan harga minyak dunia melonjak 10% usai Iran menutup Selat Hormuz.
Airlangga menyebut gejolak di Iran dan sekitarnya akan berdampak langsung pada rantai pasok minyak dunia. Harga minyak mentah sudah menyentuh level US$ 80 per barel.
Melihat kondisi itu, Airlangga tidak menampik mengenai potensi harga BBM yang naik. Ia menyebut situasi ini sama dengan kondisi saat perang Ukraina pecah beberapa waktu lalu.
“Otomatis akan naik, sama seperti saat perang Ukraina kan naik,” ujar Airlangga di kantornya, Jakarta Pusat, Senin (2/3/2026).
Di tengah perang yang semakin memanas, Airlangga menyebut Amerika Serikat (AS) dan Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak Bumi (OPEC) juga meningkatkan kapasitas produksinya. Dikutip dari Reuters, Minggu (1/3/2026), sumber mengatakan OPEC+ akan membahas peningkatan produksi 411.000 barel per hari atau lebih. Jumlah itu lebih besar dari perkiraan awal sebesar 137.000 barel per hari.
“Tetapi kan kali ini supply dari Amerika juga akan meningkat dan OPEC juga meningkatkan kapasitasnya,” tambah ia.
Meski begitu, ia menegaskan pemerintah tetap akan memantau durasi konflik tersebut sebelum mengambil langkah selanjutnya. “Nanti kita monitor dulu,” jelas Airlangga.
Seperti diketahui, Iran dilaporkan telah menutup Selat Hormuz setelah adanya serangan gabungan AS dan Israel. Beberapa pemilik kapal tanker, perusahaan minyak besar dan perusahaan perdagangan telah menangguhkan pengiriman minyak mentah, bahan bakar dan gas alam cair (LNG).
“Kapal-kapal kami akan tetap di tempat selama beberapa hari,” kata seorang eksekutif senior di sebuah perusahaan perdagangan besar dikutip dari Independent, Minggu (1/3/2026).
Stok
Pemerintah memastikan bahwa stok BBM di Indonesia masih cukup dalam kurun waktu 20 hari ke depan di tengah meningkatnya konflik di Timur Tengah.
Hal itu disampaikan Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia, saat dipanggil Presiden RI Prabowo Subianto ke Istana Negara, Jakarta, pada Senin (2/3/2026).
Bahlil mengatakan pemanggilannya ke Istana Negara untuk melaporkan terkait dampak kondisi geopolitik terhadap ekonomi dalam negeri. Menurutnya, seiring dengan perang Iran dengan Israel-AS, dilakukan penutupan Selat Hormuz oleh Iran. Oleh karena itu, pemerintah melakukan antisipasi terkait pasokan minyak dunia.
“Karena bagaimanapun kita masih melakukan impor sebelum Lebaran,” ujar Bahlil di Kompleks Istana Kepresidenan pada Senin (2/3/2026).
Bahlil pun menjelaskan Dewan Energi Nasional (DEN) akan menggelar rapat membahas terkait dampak kondisi geopolitik itu. Di sisi lain, dia memastikan stok BBM masih cukup dalam kurun waktu 20 hari ke depan.
“Masih cukup, 20 hari. [Dampak perang ke subsidi] sampai hari ini enggak ada masalah, tapi kan harga dunia pasti akan terjadi koreksi ketika kondisi geopolitik yang terus memanas di Timur Tengah,” katanya.
Sebagaimana diketahui, dampak dari perang Iran dengan Israel-AS membawa dampak penutupan Selat Hormuz. Negara-negara Asia pun akan merasakan dampak cukup signifikan dari penutupan Selat Hormuz yang menjadi jalur vital perdagangan minyak global.
Impor BBM
Indonesia merupakan salah satu negara pengimpor bahan bakar mineral (BBM) dari sejumlah negara di Timur Tengah, termasuk yang berada di kawasan Teluk Persia. Arab Saudi dan Uni Emirat Arab adalah dua negara pemasok utama bahan bakar mineral dari kawasan tersebut.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat bahwa selama tahun 2021-2025, total importasi BBM dengan kode harmonized system dua digit atau HS 27, dari Arab Saudi mencapai 26,87 juta ton atau senilai US$16,9 miliar.
Mayoritas bahan bakar mineral dari Arab Saudi mengalir ke Cilacap sebesar 18,75 juta ton atau setara US$11,3 miliar.
Selain itu ada juga yang ke Tanjung Leneng, Banten. Volumenya mencapai 5,17 juta ton atau senilai US$3,69 miliar.
Sementara itu, volume importasi BBM Indonesia dari Uni Emirat Arab alias UEA dalam 5 tahun terakhir tercatat menembus angka 11,06 juta ton atau senilai US$7,04 miliar. Aliran BBM impor dari UEA sebagian menuju ke Merak, Balikpapan, Belawan, hingga Kalbut di Situbondo, Jawa Timur.
Selain Arab Saudi dan UEA, negara teluk yang tercatat mengekspor hasil BBM alias bahan bakar mineral ke Indonesia antara lain, Qatar sebesar 4,91 juta ton atau US$3,2 miliar, Bahrain sebanyak 1,06 juta ton (US$666 juta), Kuwait 1,84 juta ton (US$1,02 miliar), dan Oman sebesar 1,64 juta ton atau senilai US$1,2 miliar.
Kendati punya peran dalam rantai pasok energi, importasi BBM terbesar Indonesia justru bukan berasal dari negara teluk, melainkan Singapura dan Malaysia. Total impor BBM dari Singapura selama 5 tahun terakhir tercatat sebesar 65,24 juta ton atau setara US$49,22 miliar. Sedangkan dari Malaysia, total importasinya mencapai 34,1 juta ton atau sekitar US$25,42 miliar.
Meski dari sisi pasokan tidak langsung tergantung kepada negara-negara teluk, Indonesia berpotensi mengalami tekanan neraca perdagangan karena lonjakan harga minyak. Apalagi, harga minyak mentah dunia melonjak usai serangan AS-Israel ke Iran menyeret pasar minyak global ke jurang kekacauan dengan penutupan Selat Hormuz secara efektif.(int)






