- Tak Sesuai Surat Edaran BGN
JAKARTA TABARONEWS — Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menyoroti adanya diskrepansi atau ketidaksesuaian antara Surat Edaran Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) dengan petunjuk teknis penyediaan serta distribusi susu dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Salah satu poin krusial yang menjadi perhatian serius IDAI adalah adanya rekomendasi untuk memasukkan susu formula lanjutan dan formula pertumbuhan bagi anak usia 6 bulan ke atas secara massal, tanpa adanya indikasi medis yang spesifik.
IDAI menegaskan bahwa pembangunan kualitas manusia menuju Indonesia Emas 2045 harus berlandaskan pada evidence-based medicine (kedokteran berbasis bukti) serta regulasi kesehatan nasional yang berlaku.
Terkait polemik tersebut, penulis kondang Indonesia yang juga seorang akuntan, Tere Liye, turut menyampaikan pandangan kerasnya. Ia menyayangkan sikap BGN yang dinilai memaksakan pembagian susu formula (sufor).
”Kalau sampai IDAI harus membuat surat terbuka begini, duuh Rabbi, negeri ini benar-benar nyaris hopeless,” tulis Tere Liye, dikutip dari akun media sosial pribadinya, Kamis (21/5/2026).
Tere Liye mengaku heran dengan keputusan para petinggi BGN. Menurutnya, sebagai pejabat yang berpendidikan, mereka seharusnya sudah menerima masukan dan peringatan secara internal sebelum aturan ini keluar.
Lebih lanjut, Tere Liye mengingatkan bahwa World Health Organization (WHO) dan organisasi kesehatan dunia lainnya melarang pembagian sufor secara gratis kepada ibu menyusui demi melindungi program ASI eksklusif.
Ia juga mempertanyakan motif di balik bersikerasnya BGN memasukkan susu formula ke dalam program nasional tersebut, bahkan secara blak-blakan menyinggung masalah anggaran dan kepentingan korporasi.
Pernyataan IDAI
Dalam keterangannya, IDAI mengutip rekomendasi global dari World Health Organization (WHO) dan UNICEF yang secara tegas menganjurkan pemberian ASI eksklusif selama enam bulan pertama kehidupan.
“WHO Breastfeeding Guidelines dan UNICEF Infant and Young Child Feeding merekomendasikan pemberian ASI eksklusif selama 6 bulan pertama kehidupan dan dilanjutkan hingga usia 2 tahun atau lebih dengan pemberian MPASI yang adekuat,” tulis IDAI dalam dokumen tersebut.
Menurut IDAI, berbagai penelitian ilmiah menunjukkan bahwa menyusui memiliki manfaat besar terhadap pertumbuhan, perkembangan neurologis, daya tahan tubuh, hingga kesehatan jangka panjang anak maupun ibu.(int)





