Headline

Rumah Warga dan Gereja di Lebang Palopo Terus Diteror, Pelaku Tak Kunjung Ditangkap

×

Rumah Warga dan Gereja di Lebang Palopo Terus Diteror, Pelaku Tak Kunjung Ditangkap

Sebarkan artikel ini
  • Kinerja Kapolres Palopo Dipertanyakan

PALOPO TABARONEWS – Teror pelemparan terhadap gereja dan rumah warga di Kota Palopo, hingga kini belum juga berakhir. Ironisnya, aksi yang sebelumnya telah menjadi sorotan publik dan mendapat perhatian Anggota DPR RI Fraksi Partai Demokrat Irjen Pol (P) Drs. Frederik Kalalembang, justru disebut masih terus berlangsung hampir setiap hari dalam bberapa bulan terakhir.

Situasi tersebut memicu kekhawatiran serius di tengah masyarakat. Warga menilai aparat penegak hukum belum menunjukkan langkah konkret untuk mengungkap dan menangkap para pelaku yang selama ini meresahkan. Padahal aksi teror tersebut bukan lagi kejadian satu atau dua kali, melainkan berulang dan bahkan membuat warga ketakutan selama dua bulan terus menerus.

Frederik Kalalembang mengaku sangat kecewa dan prihatin atas lambannya penanganan kasus tersebut. Menurutnya, persoalan keamanan masyarakat tidak boleh dianggap sepele, apalagi menyangkut rumah ibadah dan keselamatan warga yang kini hidup dalam ketakutan dan teror.

“Saya sudah meminta langsung Kapolres Palopo AKBP Dedi Surya Dharma untuk segera menindaklanjuti kasus ini. Tapi sampai hari ini saya belum melihat adanya hasil yang nyata. Pelaku belum ditangkap dan teror masih terus terjadi. Kalau kasus seperti ini saja tidak bisa diamankan, bagaimana dengan kasus-kasus lain yang lebih besar seperti BBM ilegal dan lainnya?” tegas Frederik, Ahad (31/5/2026).

Anggota DPR RI dari Dapil Sulsel 3 ini bahkan menyoroti kondisi keamanan Kota Palopo yang belakangan banyak menjadi perhatian masyarakat. Ia mempertanyakan keseriusan aparat dalam memberi rasa aman dan ketertiban di wilayah hukum Polres Palopo.
“Ini bukan kejadian baru. Ini sudah berulang kali terjadi. Jangan dianggap sepele. Kalau ini saja tidak mampu dituntaskan, lalu Kapolres kerja apa selama ini? Sepertinya Kapolres tidak peduli dengan kejadian ini,” ujar Frederik.

Ia menambahkan masyarakat berhak mendapatkan rasa aman. Frederik mengatakan akan menyampaikan persoalan ini kepada Kapolda Sulawesi Selatan Irjen Pol Djuhandani.

“Kalau memang tidak mampu ditangani, saya akan sampaikan ke Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo untuk dievaluasi. Negara tidak boleh kalah dengan pelaku-pelaku teror seperti ini, dan aparat polisi harus hadir memberi rasa aman,” tegas Frederik.

Sementara itu, Pendeta Sardelyn yang menjadi korban mengungkapkan bahwa aksi teror tersebut masih terjadi hampir setiap malam di tempatnya, di Desa Lappo, Kelurahan Lebang, Kecamatan Wara Barat, Kota Palopo. Ia mengaku hidup dalam ketakutan karena para pelaku kini tidak hanya melempar batu, tetapi juga menggunakan busur dan anak panah yang diarahkan ke sekitar rumah warga dan lokasi gereja.
“Teror ini hampir setiap hari terjadi. Tadi mulai sekitar jam 7 malam, tapi sekarang sudah tidak ada lagi. Mungkin karena di luar sudah ada pengamanan sehingga mereka berhenti,” kata Pendeta Sardelyn saat dikonfirmasi, Minggu malam.

Ia mengungkapkan, dua hari lalu warga kembali menemukan anak panah di dekat pintu dapur rumah. Menurut informasi yang diperolehnya dari warga sekitar, para pelaku diduga terdiri dari sejumlah remaja yang bergerak secara berkelompok dan melakukan aksinya pada malam hingga menjelang subuh.
“Entahlah pak, kami hanya berharap pihak keamanan saat kejadian berlangsung bisa menangkap pelakunya. Dari cerita warga, anak-anak remaja juga ikut. Dua hari lalu waktu keamanan datang mereka berhenti. Tapi setelah petugas pulang mereka lanjut lagi sekitar jam setengah empat sampai jam lima subuh. Bahkan menurut warga, saat polisi maju mereka malah dilempari batu dan akhirnya mundur,” ungkapnya.

Pendeta Sardelyn mengaku heran sekaligus kecewa karena hingga kini belum ada satu pun pelaku yang berhasil diamankan. Padahal aksi teror tersebut sudah berlangsung berulang kali dan bukti-bukti berupa batu hingga anak panah telah ditemukan di lokasi. Ia berharap aparat segera bertindak tegas sebelum terjadi korban jiwa atau konflik yang lebih besar di tengah masyarakat.

Publik pun mulai mempertanyakan kinerja aparat Polres Palopo di lapangan. Jika aksi teror yang terjadi berulang-ulang dalam waktu cukup lama saja belum mampu diungkap, maka wajar bila muncul pertanyaan besar mengenai sejauh mana negara benar-benar hadir melindungi masyarakat dari ancaman dan ketakutan yang mereka alami setiap hari.

Sikap Polres Palopo
Sementara itu apa respon dari pihak Polres Palopo? Dikatakan Kapolres Palopo AKBP Dedy Surya Dharma melalui Kasat Reskrim, IPTU Ridwan Parintak, menjelaskan kejadian di Lappo, Kelurahan Lebang murni perkelahian antar kelompok pemuda. Dan ada beberapa rumah yang terkena lemparan. Termasuk rumah ibadah (gereja).

“Ini bukan teror ke rumah ibadah, tapi kelompok pemuda saling lempar sehingga ada rumah ibadah yang terkena lemparan. Kami juga dari Unit Reskrim Polres Palopo masih lakukan penyelidikan terkait para pelaku pengrusakan itu,”kata Ridwan Parintak via telepon, Senin 1 Juni 2026.
Ia menyebutkan, kurangnya saksi yang melihat pelaku. Dan ia meminta warga melapor dan beri keterangan supaya cepat ditangkap pelakunya.(int)