PALOPO TABARONEWS — Dampak nilai tukar dollar terhadap rupiah yang semakin meningkat, tidak mesti berdampak negatif bagi perekonomian. Justru ada juga sisi positifnya, dan menjadi kabar gembira bagi petani.
Adalah petani komoditi ekspor yang justru senang di balik naiknya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Komoditi biji kakao (coklat) misalnya, saat ini harganya meningkat signifikan dibanding beberapa bulan terakhir.
Harga biji kakao Indonesia melonjak signifikan sebesar 17,24 persen pada Juni 2026, mencapai US$3.832,17 per metrik ton. Lonjakan ini dipicu oleh penutupan Selat Hormuz yang menyebabkan peningkatan biaya logistik global serta berkurangnya pasokan kakao dari Nigeria.
Untuk harga komoditi di Kota Palopo, dari penelusuran Palopo Pos di Toko Mandiri Tani Utama di Jl. Kelapa, untuk harga kakao menyentuh sampai Rp62 ribu per kg. Untuk Pala Rp40 ribu per kg, Vanili Rp250 ribu per kg.
“Kenaikan ini berfluktuasi setiap hari karena mengikuti harga ekspor,” kata salah seorang pegawai Toko Mandir Tani Utama.
Sementara itu, Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan, Tommy Andana, menegaskan bahwa gangguan pada jalur perdagangan internasional menjadi penyebab utama kenaikan harga biji kakao bulan ini. Ia menjelaskan bahwa penutupan Selat Hormuz mengakibatkan biaya logistik, asuransi, dan bahan bakar meningkat drastis.
“Ada kenaikan pada harga referensi dan harga patokan ekspor biji kakao karena ditutupnya Selat Hormuz yang mengakibatkan peningkatan biaya logistik, biaya asuransi, dan bahan bakar. Selain itu, penurunan suplai dari Nigeria ikut mendorong kenaikan harga referensi dan harga patokan ekspor biji kakao,” jelas Tommy dalam keterangan resmi, Jumat (29/5).
Tommy juga menegaskan bahwa bea keluar biji kakao untuk periode Juni 2026 tetap mengacu pada Peraturan Menteri Keuangan Nomor 38 Tahun 2024 junto PMK Nomor 68 Tahun 2025, yakni sebesar 7,5 persen. Selain itu, pungutan ekspor biji kakao juga ditetapkan sebesar 7,5 persen berdasarkan PMK Nomor 69 Tahun 2025 junto PMK Nomor 9 Tahun 2026.
Sementara itu, harga referensi minyak kelapa sawit mentah (CPO) justru mengalami penurunan pada Juni 2026. Kemendag menetapkan harga referensi CPO sebesar US$1.029,51 per metrik ton, turun 1,91 persen dibanding Mei 2026 yang mencapai US$1.049,58 per metrik ton. Tommy menyatakan penurunan ini disebabkan oleh melemahnya permintaan dari negara importir utama, terutama India.
“Harga referensi CPO periode Juni 2026 turun dibandingkan periode Mei 2026 akibat penurunan permintaan dari negara importir utama seperti India,” katanya.
Dengan penetapan harga tersebut, pemerintah mengenakan bea keluar CPO sebesar US$148 per metrik ton dan pungutan ekspor sebesar 12,5 persen dari harga referensi atau setara US$128,69 per metrik ton selama Juni 2026.
Kemendag juga mencatat kenaikan harga patokan ekspor getah pinus menjadi US$980 per metrik ton, naik 6,99 persen dibanding bulan sebelumnya.
Sementara harga patokan ekspor produk kulit tidak mengalami perubahan. Beberapa produk kayu mengalami kenaikan maupun penurunan harga tergantung jenis komoditasnya.
Ketentuan mengenai harga referensi CPO, harga referensi dan harga patokan ekspor biji kakao, serta harga patokan ekspor produk pertanian dan kehutanan tersebut tertuang dalam Keputusan Menteri Perdagangan Nomor 1414 Tahun 2026 tentang Harga Patokan Ekspor dan Harga Referensi atas Produk Pertanian dan Kehutanan yang Dikenakan Bea Keluar dan tarif layanan badan layanan umum.(int)






