MAKASSAR TABARONEWS — Pemadaman listrik bergilir melanda sejumlah wilayah di Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, dan Sulawesi Barat sejak Senin (31/8/2026). Termasuk di Luwu Raya dan Toraja. Pemadaman bergilir ini diperkirakan berlangsung selama empat hari.
PLN UID Sulawesi Selatan, Tenggara, dan Barat (Sulselrabar) mengonfirmasi pemadaman tersebut tidak hanya terjadi di Kota Makassar, tetapi juga di sejumlah wilayah lain yang masuk dalam sistem interkoneksi kelistrikan Sulselrabar.
Manager Komunikasi dan TJSL PLN UID Sulselrabar Niki Rendra Adisetiawan mengatakan pemadaman dilakukan secara bergilir untuk menjaga keandalan sistem kelistrikan.
“Selain Makassar, ada beberapa lokasi. Kami kan Sulawesi bagian selatan, barat, dan tenggara. Jadi memang interkoneksi, saling berkaitan. Jadi di beberapa wilayah,” kata Niki dilansir dari fajar.co.id.
Niki menjelaskan pemadaman dilakukan berdasarkan jadwal yang ditetapkan Unit Layanan Transmisi (ULT). Setiap wilayah mengalami pemadaman maksimal selama tiga jam.
“Jadi kita atur tiga jam dari jadwal yang sudah disampaikan. Per tiga jam,” ujarnya.
Namun, Niki tidak merinci jadwal pemadaman untuk setiap wilayah. Menurutnya, informasi mengenai jadwal tersebut disampaikan oleh masing-masing ULT.
“Ada jadwal masing-masing dari ULT. Jadwalnya dari ULT. Maksimal tiga jam,” jelasnya.
Terkait kapan pemadaman bergilir berakhir, Niki mengatakan pihaknya belum dapat memastikan secara pasti. Meski demikian, PLN memperkirakan kondisi tersebut berlangsung dalam jangka pendek.
“Kalau sampai kapannya, memang belum bisa dipastikan. Ini kan sudah biasa ya, jangkanya jangka pendek,” katanya.
PLN, lanjut Niki, akan memberikan informasi lebih lanjut mengenai perkembangan kondisi kelistrikan. Namun, berdasarkan proyeksi sementara, pemadaman bergilir diperkirakan berlangsung sekitar tiga hari. “Nanti diinformasikan lagi. Kami sih estimasi tiga hari pemadaman bergilirnya,” terangnya.
Sementara itu, Sekretaris Daerah Provinsi Sulawesi Selatan Jufri Rahman mengaku telah menerima laporan terkait kondisi pasokan listrik.
Salah satu faktor yang memengaruhi pasokan berasal dari Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Bakaru di Kabupaten Pinrang. Kondisi serupa juga terjadi pada Bendungan Bili-Bili yang mengalami penurunan permukaan air.
Jufri Rahman mengatakan debit air di sejumlah sumber pembangkit listrik tenaga air mulai berkurang. Kondisi tersebut berdampak terhadap kemampuan pembangkit dalam memasok kebutuhan listrik masyarakat. Selain faktor debit air, penggunaan pembangkit berbahan bakar diesel juga menghadapi persoalan biaya operasional.
“PLTA Bakaru, tinggi permukaan air sudah turun, Bili-Bili juga seperti itu,” ujar Jufri saat ditemui di Hotel Aryaduta, Makassar, Senin, 31 Agustus 2026.
Menurut Jufri, keterbatasan pasokan membuat PLN harus melakukan sejumlah langkah untuk menjaga sistem kelistrikan. Salah satu langkah yang lazim dilakukan adalah pemadaman secara bergilir. Kondisi tersebut juga dipengaruhi harga bahan bakar minyak yang meningkat. “Daripada rugi, tentu teknik yang paling lazim selama ini pemadaman bergilir,” katanya.(int)






